Rabu, 15 Agustus 2012

Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi sifat-sifat Cahaya


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
           Kualifikasi sumberdaya manusia, sangat diperlukan dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menghadapi persaingan global. Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembangunan disegala bidang. Hingga kini pendidikan masih diyakini sebagai wadah dalam pembentukan sumberdaya manusia yang diinginkan. Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam pembentukan sumberdaya manusia, maka peningkatan mutu menjawab perubahan zaman.
     Dimasa sekarang ini banyak orang mengukur keberhasilan suatu pendidikan hanya dilihat dari segi hasil. Pembelajaran yang baik adalah bersifat menyeluruh dalam melaksanakannya dan mencakup berbagai aspek, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga dalam pengukuran tingkat keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas juga dari segi kualitas yang telah dilakukan di sekolah-sekolah.
           Mengacu dari pendapat tersebut, maka pembelajaran yang aktif ditandai adanya rangkayan kegiatan terencana yang melibatkan siswa secara langsung, komprehensif baik fisik, mental maupun emosi. Hal semacam ini sering diabaikan oleh guru karena guru lebih mementingkan pada pencapaiyan tujuan dan target kurikulum.
           Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di kelas V SD Negei 8 Lawa dengan jumlah siswa 14 orang yang terdiri dari 7 orang laki-laki dan 7 orang perempuan, hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA (sains) masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan  umum 2 tahun terakhir pada materi pokok sifat-sifat cahaya yakni tahun pelajaran 2010/2011, nilai rata-rata siswa 60,16 dan tahun pelajaran 2011/2012 dengan nilai rata-rata siswa 62,50 yang belum memenuhi ketuntasan standar minimal yag ditetapakan oleh sekolah yakni 65,00. Hal ini berarti proses pembelajaran IPA masih perlu ditingkatkan agar hasil belajar siswa dapat optimal serta dapat mencapai standar ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah.
           Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul : Penerapan Metode Eksperimen  untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi  Pokok Sifat-Sifat Cahaya di Kelas V SD Negeri 8 Lawa.  
B.  Rumusan Masalah
           Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “ Apakah Penerapan Metode Eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok sifat-sifat cahaya di kelas V SD Negeri 8 Lawa?”
C.   Tujuan Penelitian
           Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok sifat-sifat Cahaya di kelas V SD Negeri 8 Lawa melalui penerapan metode eksperimen.
D.  Manfaat Penelitian
           Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberikan manfaat yang berarti bagi siswa, guru dan sekolah sebagai suatu system pendidikan yang mendukung peningkatan proses pembelajaran yakni:
1.      Bagi siswa: dapat meningkatkan aktifitas dan kreatifitassiswa dan akan berdampak meningkatan hasil belajar IPA siswa.
2.      Bagi Guru: menambah pengetahuan tentang pemanfaatan metode eksperimen sebagai metode pembelajaran.
3.      Bagi sekolah: memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Kajian Teori
1.     Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
      Pendidikan IPA di SD disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak, artinya dengan tingkat kemampuan berfikir anak. Pikiran anak masih terbatas pada objek di sekitar lingkungan. Pada tingkatini anak dapat mengenal bagian-bagian dari benda-benda seperti berat, warna dan bentuknya. Kemampuan yang dikembangkan adalah menggolongkan dengan berbagai cara, menyusun dan merangkai berurutan dan melakukan proses berfikir kebalikan, melakukan operasi matematika, seperti menambah, mengurangi, mengalih dan membagikan, anak SD sudah mampu mengklasifikasikan bagian-bagian, struktur dan fungsi. Dia berfikir kebalikannya misalnya merpati termasuk burung, burung itu bertelur maka anak dapat menyimpulkan bahwa anak dapat bertelur.
      Anak belum dapat berfikir abstrak tetapi ia dapat membuat hipotesis sederhana. Ruang lingkup IPA di SD mencakup mahluk hidup dan proses kehidupannya, materi sifatsifat dan keguanaannya, kesehatan dan makanan, penyakit dan pencegahannya, membudayakan alam dan kegunaannya, pemeliharaan dan pelestariannya. Alokasi waktu yang diberikan berturut-turut dari kelas III sampai VI adalah 3,6,6,6 jam pelajaran perminggu. (Depdikbud, 1994: 117)

2.     Pembelajaran IPA dengan Metode Eksperimen
      Metode eksperimen adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih melakukan proses secara mandiri, sehinggasiswa sepenuhnya terlibat untuk menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variable, merencanakan eksperimen dan memecahkan masalah yang dihadapi secara nyata. Melalui eksperimen, siswa tidak menerima begitu saja sejumlah informasi yang diperolehnya tetapi akan berusaha untuk mengelolah perolehannya dengan membandingkan tahap fakta yang diperolehnya dalam eksperimen yang dilakukan. Metode eksperimen dapat dikembangkan keterampilan-keterampilan seperti: keterampilan mengamati, menghitung, mengukur, membuat pola, membuat hipotesis, merencanakan eksperimen, mengendalikan variable, menginterpretasi data, membuat kesimpulan sementara, meramal, menerapkan, mengkomunikasikan, dan mengajukan pertanyaan. (Bahan Penataran CBSA, 1991: 119)
      Eksperimen adalah bagian yang amat sulit dipisahkan dari ilmu pengetahuan alam, dapat dilakukan di laboratorium maupun dialam terbuka. Metode ini mempunyai arti penting karena memberi pengalaman praktis yang dapat membentuk persamaan dan kemauan anak. Hal-hal yang diperhatikan dalam eksperimen adalah melakukan hal-hal praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari, member pengertian sejelas-jelasnya tentanglandasan teori yang akan diujicobakan. Metode eksperimen dalam pembelajaran IPA memiliki keuntungan antara lain: siswa kreatif melakukan kegiatan, memberi kesempatan menggunakan seluruh panca indra, melatih intelektual anak, siswa dapat melakukan kegiatan sesuai metode ilmia dan dapat menemukan sendiri temuan yang baru. Hal yang harus diperhatikan oleh guru antara lain: guru harus melatih dan melaksanakan  metodeh ilmiah, perlu perencanaan yang matang sebelum melakukan eksperimen, memerlukan peralatan yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Eksperimen menjadi gagal apabila kondisi peralatan tidak cocok sehingga kesimpulan salah.
      Proses pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen dapat meningkatkan keterampilan proses. Juga meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, Ilmu Pengetahuan Alam dapat berkembang pesat berkat metode ilmiah. Proses pembelajaran IPA menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Dengan metode eksperimen dalam proses pembelajaran dapat melatih siswa mengembangkan keterampilan intelektualnya.
      Menurut Sulamah (2003: 30) proses pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen dapat meningkatkan keterampilan proses, juga meningkatakan prestasi belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam dapat berkembang pesat berkat metode ilmiah. Proses pembelajaran IPA menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Dengan metode eksperimen dalam Proses pembelajaran dapat melatih siswa mengembangkan keterampilan inteletualnya. Diharapkan metode eksperimen dalam proses pembelajaran IPA akan dapat menigkatkan prestasi belajar dan semangat belajar secara aktif pada siswa.
3.     Belajar dan Mengajar
      Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar menunujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran (sasaran didik), sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan yang terjadi pada seseorang. Perubahan yang merupakan hasil dari belajar dapat ditunjukan dalam berbagaibentuk seperti berubahnya pengetahuan, pengalaman, sikap, dan tingkah laku, keterampilannya, kemampuan dan kecakapannya daya reaksinya, daya penerimaannya, dan lain-lain aspek yangada pada individu (Sudjana 1987:28). Dalam proses belajar dan mengajar terjadi interaksi antara guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa sebagai makna utama proses pembelajaran memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif. Kedudukan siswa dalam proses belajar dan mengajar adalah sebagai subjek dan sekaligus objek dalam pembelajaran, sehingga proses atau kegiatan belajar dan mengajar adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran.
      Pembelajaran merupakan suatu usaha dasar yang dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk membantu siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya, sehingga perubahan tingkah laku yang diharapkan dapat terwujud.
      Belajar adalah suatu usaha untuk memperoleh semua ilmu pengetahuan yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku (Hamalik, 2003:40). Belajar juga dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan sehinga mampu mengubah tingkah laku itu menjadi tetap berubah lagi dengan modifikasi yang sama (Hudoyo 2001:3).
      Berdasarkan beberapa pendapat tentang belajar, maka dapat disimpulkan beberapa pokok pengertian belajar, antara lain (a) belajar akan membawa perubahan tingkah, (b) dengan belajar sesorang akan mendapat pengetahuan baru, dan (c) perubahan tingkah laku dan pengetahuan itu diperoleh melalui suatu usaha dan pengalaman.
      Mengajar pada dasarnya merupakan segala upaya yang disengaja dalam rangka memberikan kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajarmengajar sesuai dengan tujuan  yang telah dirumuskan(Rusyan, 2004:26). Lebih lanjut Sardiman (2003:19) bahwa di dalam proses belajar mengajar, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subyek belajar, dituntut adanya profil kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata nilai serta sifat-sifat pribadi agar prose situ dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.
      Prose belajar mengajar meliputi kegiatan yang dialkukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran (Sobroto, 2002:19). Usaha untuk mencapai tujuan belajar tersebut maka perlu diciptakan adanya system lingkungan atau kondisi belajar yang lebih kondusif, sebab mengajar adalah usaha  penciptaan system lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang optimal. (Slameto 2003: 32).
      Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar adalah terjadinya interaksi belajar mengajar yang dilakukan oleh guru (sebagai pengajar) agar siswa (sebagai pelajar)mendapatkan pengalaman yang ditujukan oleh perubahan tingkah lakudalam pencapaian pembelajan.

4.     Hasil Belajar Siswa
      Hasil belajar dalam kontekstual menekankan proses yaitu segala kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Nilai siswa diperoleh dari penampilan siswa sehari-hari ketika belajar. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara misalnya, proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, dan tes (Depdiknas 2002).
      Menurut Purwanto (1986) bahwa hasil belajar biasanya dapat diketahui melaui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akanmenunjukan sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaiyan tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi dua factor utama yakni factor dari dalam diri siswa itu dan factor yang dating dari luar siswa atau factor lingkungan. Factor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Clark mengemukakan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswada 30 % dipengaruhi oleh linkungan. Disamping factor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada factor lain, seperti motifasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, social ekonomi, factor fisikdan psikis (Sudjana, 1987: 39-40).
      Adaqnya pengaruh dalam diri siswa merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbutan belajar adalah perubahan tingkahlaku individu yang diniati dan disadari. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi nilai belajar disekolah adalah kualitas pengajaran yaitu tinggih rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar dan mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran.
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Tatih (2010) yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negri 8 Lawa Muna pada Materi pokok Gaya Dapat Mengubah Gerak Suatu Benda dengan Menggunakan Metode Eksperimen” menyimpulkan bahwa penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negri 8 Lawa yang ditandai dengan meningkatnya hasil belajar dari 62,25 (sebelum penelitian) menjadi 75,00 pada akhir siklus II.
C. Kerangka Berfikir
Metode eksperimen adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih melakukan proses secara mandiri, sehingga siswa sepenuhnya terlibat untuk menentukan fakta, menggumpulkan data, mengendalikan variable, merencanakan eksperimen dan memecahkan masalah yang dihadapi secara nyata melalui eksperimen siswa tidak menerima begitu saja sejumlah informasi yang diperolehnya tetapi akan berusaha untuk mengelolah perolehannya dengan membandingkan tahap fakta yang diperolehnya dengan eksperimen yang dilakukan. Metode eksperimen dapat dikembangkan dengan keterampilan-keterampilan seperti: keterampilan mengamati, menghitung, mengukur, membuat pola, membuat hipotesis, merencanakan eksperimen, mengendalikan variable, menginterpretasikan data, membuat kesimpulan sementara, meramal, menerapkan, mengkomunikasikan dan mengajukan pertanyaan.
Hasil belajar siswa adalah ukuran keberhasilan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dalamsuatu sub materi pokok. Untuk mengajarkan konsep IPA, guru sebaiknya memperhatikan kondisi siswa yang diajarnya. Kondisi yang dimaksudkan adalah kesiapan siswa, perbedaan kemampuan siswa dan tingkah laku siswa dalam menerima pelajaran.
Melalui penerapan metode eksperimen dapat memudahkan siswa dalam menerima materi pelajaran karena siswa berfikir bersama, sehingga siswa berperan aktif dan memperoleh pembelajaran yang lebih bermakna serta dapat meningkatkan hasil belajar.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka hipotesis tindakan dalam penelitian, ini adalah penerapan metode eksperimen dalam mengajarkan IPA pada materi pokok sifat-sifat cahaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negri 8 Lawa.


DAFTAR PUSTAKA
Depdikbud, 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar, Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas, 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompentensi Mata Pelajaran Sains. Depdiknas. Jakarta:
Hamalik, O., 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdsarkan CBSA. Sinar Baru, Bandung.
Hudoyo, H., 2001. Belajar Mengajar. Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud Jakarta.
Kemmis, S. (Ed. 1991). The Action Research Planner. Deakin. University: Australia.
Morgan dan Purwanto, 2002. Ilmu Pendidikan (Teoritis dan Praktis). Remaja Rosda Karya. Bandung
Nasution, S. 1985. Berbagai Pendekatan dalam proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution, S. 1994. Berbagai Pendekatan dalam proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto, N 1986. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja Karya Bandung.
Pusat KurikulumBalitbang Depdiknas. 2002. Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar. http://www.puskur.or.id/data/ringkasan_kbm.pdf.
Rusyan, 2004. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosda Karya, Bandung.
Roestiyah, N.K 1988. Didaktik Metodik. Jakarta: Bina Aksara.: Remaja Rosdakarya. Bandung
Sardiman, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta
Subroto, 2002. Proses Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta.
Slameto, 1987. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Rieka Cipta Jakarta.
Slameto, 1987. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Rieka Cipta Jakarta.
Sudjana, N. 1987. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.: PT. Sinar Baru Algensindo. Bandung
Sudjana, N. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
Sulamah, 2003. Meningkatkan Keterampilan Proses Melalui Penggunaan Model Eksperimen pada Siswa Kelas VI SDN Purwoyoso, Ngaliyan, Semarang.
Suryabrata, Sumadi, 1997. Metodelogi Penelitian. Jakarta: PT Raya Grafindo
Susilo, 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Pustaka Book Publisher. Yogyakarta.
Tim PLPG, 2012. Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru. Rayon 126Universitas                            Haluoleo Kendari.
Tirtarahardja, 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Usman, Moh. Uzer, 2000. Menjadi Guru Profesional. PT. Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer, 2004. Menjadi Guru Profesional. PT. Remaja Rosdakarya
Winkel, W.S., 1987. Psikologi Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar