Kamis, 16 Agustus 2012

ANALISIS URIN YANG MENCAKUP URINALISIS, SCRIPT TEST DAN TES KIMIA URIN


URINALISIS

Pendahuluan
Urinalisis (tes urin) atau analisis urin adalah pemeriksaan sampel urin secara fisik (makroskopik), mikroskopik dan kimia.Tes urin terbagi atas Tes urin rutin; makroskopik, mikroskopik,dan kimia. Tes urin Khusus; Biakan urin (mengetahui adanya kuman atau tidak dalam urin) dan Protein kuantatif (mengetahui jumlah protein).
Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat.
Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin (proteinuria).
Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :
ü  Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin. Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.
ü  Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.
ü  Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.
ü  Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.
ü  Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran.
ü  Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.
ü  Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.
     Tujuan Urinalis (tes urin ) adalah sebagai berikut :
1.    Membantu tegakan diagnosis.
2.    Mendapatkan informasi tentang fungsi organ dan metabolisme tubuh.
3.    Mandeteksi kelainan asimtomatik.
4.    Mengikuti perjalanan penyakit dan hasil pengobatan.
Yang akan dilakukan dalam praktikum ini ialah tes urin rutin secara manual, yaitu tes Makroskopis dan tes Kimia urin; tes protein urin, tes glukosa urin.



METODE
1.    Tes Makroskopis
*        Pra Analitik
Tes
Persiapan Pasien & Sampel
Prinsip Tes
Alat & Bahan
Volume
Tidak Ada

600 – 2500 ml/24 jam, rata-rata 1500ml/24 jam
Urin
Gelas ukur
Kejernihan & Warna
Normal jernih atau sedikit keruh & berwarna kuing muda
pH
Penetapan dilakukan dengan memakai indicator strip
Urin
Gelas ukur
Strip indicator
Bau
Bau normal yang karakteristik disebabkan oleh asam organik  yang mudah menguap
Urin
Gelas ukur
Berat Jenis
BJ memberikan kesan derajat kepekatan urin. Urin pekat dengan BJ>1,030 mengindikasi kemungkinan adanya glukosa
Urin
Gelas ukur
Urinometer


*        Analitik
Ø  Cara kerja
a.         Volume urin:
Pengukuran volume urin dilakukan dengan cara:
§  Masukkan urin kedalam gelas ukur
§  Baca nilai yang ditunjukkan pada dinding gelas ukur
b.         Kejernihan & warna urin:
§  Masukkan urin kedalam gelas ukur
§  Amati warna pada urin
c.         pH:
§  Masukkan urin kedalam gelas ukur
§  Celupkan indicator strip kedalam urin dan pastikan semuanya yang akan dibandingkan tercelup
§  Angkat indicator strip setelah di rendam didalam urin
§  Diamkan selama 30 detik
§  Bandingkan hasil yang didapatkan dengan indicator standar
d.        Bau:
§  Masukkan urin kedalam gelas ukur
§  Cium bau yang ditimbulkan oleh urin
e.         Berat Jenis:
§  Masukkan urin kedalam gelas ukur
§  Celupkan urinometer kedalam urin yang ada pada gelas ukur
§  Baca pengukuran yang ditunjukkan pada urinometer
*        Nilai rujuk
1.      Volume Urin : 600 – 2500 ml/24 jam, rata-rata 1500ml/24 jam.
Kejernihan & warna: Normal jernih atau sedikit keruh & berwarna kuing muda.
2.     Strip tes: Penetapan dilakukan dengan memakai indicator strip.
3.     Bau: Bau normal yang karakteristik disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap.
4.     Berat jenis: Urin pekat dengan BJ>1,030 mengindikasi kemungkinan adanya glukos
*        Pasca Analitik
Ø  Interprestasi
a)         Volume urin
Interprestasi: 75 ml
b)        Kejernihan & warna urin
Interprestasi: urin jernih dan berwarna kuning muda
c)         Derajat keasaman atau pH
Interprestasi: 6,5
d)        Bau
Interprestasi: bau pesing
e)         Berat Jenis
Interprestasi:
Suhu tera                     :15°C
Suhu ruangan              : 35°C
BJ yang dibaca            : 1,018








SCRIPT TEST
Percobaan ini masih menggunakan sampel urin yang sebelumnya. Indikator script dimasukkan ke dalam tabung yang berisi urin. Kemudian diperhatikan reaksi dan perubahan yang terjadi.
*        Pra Analitik
Ø  Persiapaan pasien   : tidak dilakuakan persiapan khusus
Ø  Persiapan sampel    : tidak dilakukan persiapan khusus
Ø  Prinsip tes               : penetapan dilakukan dengan menggunakan indicator strip
Ø  Alat dan bahan       :
a.    Gelas ukur
b.   Urin
c.    Indicator strip
*      Analitik
Ø  Cara kerja:
1.    Masukkan kedalam gelas ukur sebanyak 5 ml
2.    Letakkan indicator strip kedalam urin
3.    Angkat kembali, kemudian diamkan selama 30 detik
4.    Bandingkan hasil yang didapat dengan indicator standar
*   Pasca Analitik
Ø  Interprestasi
§  Leukosit             (-)
§  Nitrit                  (-)
§  Urobilinogen      Normal
§  Protein                (-)
§  pH                      6,5
§  Darah                 (-)
§  Spesifik grafity  1,015
§  Keton                 (-)
§  Bilirubin             (+) 1
§  Glukosa              (-)

ü  Pengamatan
1.         Glukosa
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus.
Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna.

2.      Protein
Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai proteinuria.
Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan fisiologis. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-menstruasi dan mandi air panas juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi.
Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Dipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan mukoprotein.

3.    Bilirubin
Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai ikterik.

4.      Urobilinogen
Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area duodenum, tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Sebagian besar urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah, di sini urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan ke dalam urine oleh ginjal.
Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat.
Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil urobilinogen.

5.    Keasaman (pH)
Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status asam-basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 – 8,0. pH bervariasi sepanjang hari, dipengaruhi oleh konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) adalah yang lebih asam. Obat-obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan asam-basa jug adapt mempengaruhi pH urine.
Urine yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan berubah menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai terhadap albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit, silinder yang akan mengalami lisis. pH urine yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya infeksi. Urine dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat.

Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :

v  pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih (Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.
v  pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.

6.      Berat Jenis (Specific Gravity, SG)
Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin.
Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 – 1,025, sedangkan dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam bisa mencapai ≥1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine.
BJ urine yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus. Nokturia dengan ekskresi urine malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar glukosa sangat tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan tinggi secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul rendah. Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut non-glukosa.

7.      Darah (Blood)
Pemeriksaan dengan carik celup akan memberi hasil positif baik untuk hematuria, hemoglobinuria, maupun mioglobinuria. Prinsip tes carik celup ialah mendeteksi hemoglobin dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor oksigen. Eritrosit yang utuh dipecah menjadi hemoglobin dengan adanya aktivitas peroksidase. Hal ini memungkinkan hasil tidak sesuai dengan metode mikroskopik sedimen urine.
Hemoglobinuria sejati terjadi bila hemoglobin bebas dalam urine yang disebabkan karena danya hemolisis intravaskuler. Hemolisis dalam urine juga dapat terjadi karena urine encer, pH alkalis, urine didiamkan lama dalam suhu kamar. Mioglobinuria terjadi bila mioglobin dilepaskan ke dalam pembuluh darah akibat kerusakan otot, seperti otot jantung, otot skeletal, juga sebagai akibat dari olah raga berlebihan, konvulsi. Mioglobin memiliki berat molekul kecil sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresi ke dalam urine.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Ø  Hasil positif palsu dapat terjadi bila urine tercemar deterjen yang mengandung hipoklorid atau peroksida, bila terdapat bakteriuria yang mengandung peroksidase.
Ø  Hasil negatif palsu dapat terjadi bila urine mengandung vitamin C dosis tinggi, pengawet formaldehid, nitrit konsentrasi tinggi, protein konsentrasi tinggi, atau berat jenis sangat tinggi.
Urine dari wanita yang sedang menstruasi dapat memberikan hasil positif.
8.    Keton
Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam β-hidroksibutirat) diproduksi untuk menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam aseotasetat dan asam β-hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan untuk menggunakan keton sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine, dan apabila kemampuan ginjal untuk mengekskresi keton telah melampaui batas, maka terjadi ketonemia. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat.
Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes), sehingga tubuh mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein, febris.

9.      Nitrit
Di dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolisme protein, yang kemudian jika terdapat bakteri dalam jumlah yang signifikan dalam urin (Escherichia coli, Enterobakter, Citrobacter, Klebsiella, Proteus) yang megandung enzim reduktase, akan mereduksi nitrat menjadi nitrit. Hal ini terjadi bila urine telah berada dalam kandung kemih minimal 4 jam. Hasil negative bukan berarti pasti tidak terdapat bakteriuria sebab tidak semua jenis bakteri dapat membentuk nitrit, atau urine memang tidak mengandung nitrat, atau urine berada dalam kandung kemih kurang dari 4 jam. Disamping itu, pada keadaan tertentu, enzim bakteri telah mereduksi nitrat menjadi nitrit, namun kemudian nitrit berubah menjadi nitrogen.
Spesimen terbaik untuk pemeriksaan nitrit adalah urine pagi dan diperiksa dalam keadaan segar, sebab penundaan pemeriksaan akan mengakibatkan perkembang biakan bakteri di luar saluran kemih, yang juga dapat menghasilkan nitrit.

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Ø  Hasil positif palsu karena metabolisme bakteri in vitro apabila pemeriksaan tertunda, urine merah oleh sebab apapun, pengaruh obat (fenazopiridin).
Ø  Hasil negatif palsu terjadi karena diet vegetarian menghasilkan nitrat dalam jumlah cukup banyak, terapi antibiotik mengubah metabolisme bakteri, organism penginfeksi mungkin tidak mereduksi nitrat, kadar asam askorbat tinggi, urine tidak dalam kandung kemih selama 4-6 jam, atau berat jenis urine tinggi.
10.  Lekosit esterase
Lekosit netrofil mensekresi esterase yang dapat dideteksi secara kimiawi. Hasil tes lekosit esterase positif mengindikasikan kehadiran sel-sel lekosit (granulosit), baik secara utuh atau sebagai sel yang lisis. Limfosit tidak memiliki memiliki aktivitas esterase sehingga tidak akan memberikan hasil positif. Hal ini memungkinkan hasil mikroskopik tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan carik celup.
Temuan laboratorium negatif palsu dapat terjadi bila kadar glukosa urine tinggi (>500mg/dl), protein urine tinggi (>300mg/dl), berat jenis urine tinggi, kadar asam oksalat tinggi, dan urine mengandung cephaloxin, cephalothin, tetrasiklin. Temuan positif palsu pada penggunaan pengawet formaldehid. Urine basi dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.



TES KIMIA URIN
Tes kimia urin terdiri dari tes protin urin, glukosa, urobilinogen, benda keton, darah samar, nitrit dan lain-lain.yang akan dilakukan dalam praktikum  ini adalah tes protein urin, glukosa urin dan tes albumin.

*      Tes Protein Urin
Ø   Pra Analatik
a.         Persiapan Pasien
Tidak dilakukan persiapan khusus
b.         Persiapan Sampel
Tidak dilakukan persiapan khusus
c.         Prinsip Tes
Berdasarkan pada prinsip kesalahan penetapan pH oleh protein.
Indikator digunakan tetrabromphenol blue → pH tetap konstan akibatnya urin albumin bereaksi dengan indikator.
d.        Alat dan bahan
Alat :
§   Tabung reaksi + rak
§   Pembakar (spiritus)
 Bahan :
§   Asam asetat 
§   Urin
Ø   Analitik
a.          Cara kerja
Reaksi dengan Asam Asetat 10% dan pemanasan
§   Menuangkan urin yang jernih kedalam tabung reaksi  sampai 2/3 penuh.
§   Panaskan bagian atas tabung selama lebih kurang 2 menit. Bagian bawah tabung digunakan sebagai pambanding (kontrol).
§   Tambahkan 3-5 tetes asam asetat 10% untuk melarutkan fosfat dan karbonat.
§   Panaskan lagi bagian atas tabung, kekeruhan yang timbul adalah presipitasi protein.

b.         Nilai rujuk
Negatif             : tidak ada kekeruhan
±                      : kekeruhan sangat halus, terlihat bila diberikan latar belakang hitam (protein < 0,01 gr%)
1+                    : ada kekeruhan tetapi tidak tampak berbutir-butir (protein 0,01 – 0,05 gr %)
2+                   : ada kekeruhan dan tampak berbutir-butir (protein 0,05 – 0,2 gr)
3+                   : amat keruh dengan gumpalan berkeping-keping (protein 0,2 – 0,5 gr%)
4+                   : kekeruhan tebal dan bergumpal-gumpal (protein > 0,5 gr%)
Ø   Pasca Analitik
Interpretasi
Hasil penilaian :
4+    : Kekeruhan tebal dan bergumpal-gumpal (protein > 0.5 gr% )

*      Tes Glukosa Urin
Ø  Pra Analatik
a.          Persiapan Pasien
Tidak ada persiapan khusus
b.         Persiapan Sampel
Tidak ada persiapan khusus
c.         Prinsip Tes
Glukosa oksidase yang akan diuraikan menjadi es glukonat dan hidrogen perosida →akan mengkatalisis rx potasium iodida → berwarna biru muda, hijau sampe coklat.
d.        Alat dan bahan
Alat :
§  Tabung reaksi + rak.
§  Pembakar Spiritus.
Bahan :
§  Larutan benedict kualitatif.
§  Air gula
Ø  Analitik
a.          Cara kerja
§  Menuangkan 5 ml larutan  Benedict kedalam  tabung reaksi.
§  Menambahkan sampel air gula sebanyak 5-8 tetes
§  Mendidihkan diatas nyala api spritus selama 2 menit.
§  Memperhatikan adanya perubahan warna setelah isi tabung dikocok.
b.         Nilai rujukan
§  Negatif        : cairan tetap biru, jernih, bisa agak hijau / sedikit keruh
§  1+    : hijau kekuningan       (glukosa 0,5-1,0 gr%)
§  2+    : kuning kehijauan       (glukosa 1,0-1,5 gr%)
§  3+    : kuning                       (glukosa 1,5-2,5 gr%)
§  4+    : jingga/merah              (glukosa 2,5-4,0 gr%)
*      Pasca Analitik
Ø  Interpretasi
Menghasilkan hasil palsu, cairan tetap biru, jernih, agak hijau atau sedikit keruh.Hal ini dikarenakan Larutan Benedict rusak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar